Mendengar rencana Lynx untuk menggunakan akupuntur, salah satu murid kembali menyela. "Aku tidak setuju! Jangan bertaruh dengan nyawa seseorang hanya berdasarkan dugaan!"

Namun Walikota telah mengambil keputusan. Ia menatap mereka dengan tegas. "Terima kasih atas perhatian kalian, tapi aku ingin mempercayakan anakku padanya. Bagaimanapun juga, ia telah menyelamatkan nyawa Li Mei sebelumnya."

Tak lama, sekotak jarum emas dibawa ke hadapan Lynx. Semua mata tertuju padanya.

Lynx mengambil beberapa jarum, lalu mulai menusukkan ke titik akupunktur utama di sekitar jantung Li Mei. Tangannya bergerak secepat kilat—dan…

Ctak!

Sebuah jarum tipis, berwarna putih pucat, tercabut dari jantung Li Mei.

Seorang murid tiba-tiba berseru, "Itu… Jarum Pengunci Sukma!"

Murid sekte itu menatap jarum tersebut dengan ekspresi terkejut. "Aku pernah membaca tentang benda ini… Tapi kupikir itu tidak nyata! Sebuah alat jahat yang dikatakan bisa membuat korbannya kehilangan kesadaran akan identitasnya sendiri!"

Seorang murid lain berseru, "Bukankah mereka yang terkena jarum itu bisa kehilangan ingatan, bahkan pingsan selama berhari-hari tanpa sadar? Kenapa kita tidak menyadarinya selama ini."

Semua orang membelalak.

Murid lain ternganga. "Benda ini… konon hanya bisa dideteksi oleh seorang Grandmaster Langit ke atas! Tapi… bagaimana mungkin dia menemukannya dengan begitu mudah?"

Lynx hanya tersenyum tipis tidak menghiraukan.

Ruangan itu sunyi. Semua orang kini menatapnya dengan cara yang berbeda, bukan lagi dengan keraguan, tetapi dengan rasa hormat yang dalam.

Salah satu murid Sekte Api Langit yang sejak tadi berdiri di dekat ranjang Li Mei segera mendekat. Dengan hati-hati, ia meletakkan dua jarinya di pergelangan tangan Li Mei, merasakan denyut nadinya. Beberapa saat kemudian, matanya membelalak.

"Pernapasannya…" gumamnya dengan tak percaya. "Sudah kembali normal!"

Murid lain yang mendengar langsung ikut maju, satu per satu memeriksa kondisi Li Mei. Salah satu dari mereka bahkan menempelkan telinganya ke dadanya, memastikan detak jantungnya stabil.

"Ini luar biasa," ujar seorang murid dengan nada takjub. "Selama berhari-hari, napasnya lemah dan tidak beraturan, seakan dia berada di ambang kematian. Tapi sekarang… ritmenya kembali seperti orang sehat!"

Yang lain mengangguk, masih terkejut. "Seolah-olah ia hanya sedang tidur nyenyak… Seakan tidak pernah ada yang salah dengan tubuhnya!"

Li Wei yang sedari tadi menahan napas akhirnya menghela dengan lega. Ia meraih tangan kakaknya, menggenggamnya erat. "Kakak…" ucapnya lirih, matanya berkaca-kaca.

Walikota yang melihat perubahan ini langsung berdiri dan berjalan mendekat. Ia menatap anaknya dengan ekspresi penuh harapan, lalu menoleh ke Lynx.

"Kapan dia akan sadar?" tanyanya.

Lynx, yang sejak tadi hanya mengamati, menjawab dengan tenang, "Kondisinya sudah stabil. Sisa efek dari Jarum Pengunci Sukma perlahan akan menghilang seiring dengan aliran darahnya kembali normal. Paling cepat, ia akan sadar besok pagi."

Mendengar itu, suasana ruangan yang awalnya dipenuhi ketegangan langsung berubah menjadi kelegaan. Beberapa murid sekte yang tadi meragukan Lynx kini hanya bisa terdiam, tak mampu membantah kenyataan di depan mereka.

"Besok pagi… Jadi benar-benar tidak ada bahaya lagi?" tanya salah satu murid, masih sulit mempercayai apa yang baru saja terjadi.

Lynx mengangguk. "Yang perlu dilakukan sekarang hanyalah menunggu. Dia butuh istirahat penuh agar tubuhnya bisa pulih sepenuhnya."

Komandan Jiang tersenyum kecil. "Kalau begitu, kita semua juga harus beristirahat. Kita tidak bisa melakukan apa pun lagi untuk saat ini."

Walikota menatap Lynx dengan mata yang penuh rasa syukur. Ia lalu membungkuk dalam-dalam. "Xiao Ling… Aku tidak tahu bagaimana aku harus berterima kasih padamu. Kau sudah menyelamatkan anakku."

Lynx mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar Walikota tidak perlu bersikap berlebihan. "Aku hanya kebetulan bisa membantu."

Namun, bagi Walikota, ini bukan sekadar kebetulan. Ia tahu bahwa jika bukan karena pemuda ini, anaknya mungkin tak akan pernah bangun lagi.

"Terima kasih…" ulangnya dengan suara lebih lirih, tapi penuh ketulusan.

Li Wei ikut menatap Lynx, matanya berbinar penuh penghormatan. "Xiao Ling… Aku berhutang nyawa padamu."

Lynx tidak menjawab, hanya tersenyum kecil sebelum berbalik. "Semua orang sudah cukup kelelahan. Lebih baik kita semua beristirahat."

Mereka semua setuju. Satu per satu mulai meninggalkan ruangan, meski beberapa murid sekte masih terlihat sulit melepaskan pandangan dari Lynx, seolah mencoba memahami siapa sebenarnya pemuda misterius ini.

Sementara itu, Li Mei masih tertidur dengan tenang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wajahnya tidak lagi terlihat pucat dan tersiksa. Ia hanya tampak seperti seseorang yang sedang tidur nyenyak, tanpa beban, tanpa rasa sakit.

***

Di dekat gerbang masuk Kota Huoling, berdiri sebuah rumah makan yang dikenal dengan nama Paviliun Seribu Emas. Lokasinya strategis, tepat di jalur utama dari arah Hutan Fengling, menjadikannya tempat persinggahan utama bagi para pedagang, pelancong, serta para kultivator yang keluar masuk kota.

Namun, sedikit yang mengetahui bahwa pemilik rumah makan ini, Nyonya Chen Xue, bukanlah wanita biasa. Nama aslinya adalah Yin Yue, pewaris garis keturunan langsung dari Klan Yinfeng, sebuah klan misterius yang selama berabad-abad memburu satu tujuan yaitu mengumpulkan fragmen senjata iblis yang tersembunyi di berbagai artefak. Klan ini adalah salah satu dari sekian banyak klan dan sekte yang berlomba-lomba untuk mendapatkannya.

Senjata iblis itu dulu dimiliki oleh ketua Sekte Iblis, seorang kultivator yang pernah mengguncang dunia. Dengan senjata itu di tangannya, kekuatannya melampaui para imortal tingkat akhir, menjadikannya eksistensi yang hampir tak tertandingi.

Saat sekte iblis dihancurkan dalam perang besar ratusan tahun yang lalu, sekte-sekte kuat yang melawan mereka berusaha menghancurkan senjata itu, namun gagal. Kekuatan gelapnya terlalu besar untuk dimusnahkan, sehingga mereka akhirnya memutuskan untuk memisahkannya menjadi beberapa bagian dan menyegelnya di dalam artefak kuno, lalu menyembunyikannya di berbagai tempat rahasia.

Salah satu fragmen senjata itu… telah lama disimpan di dalam artefak yang kini berada di tangan Walikota Huoling.

Selama bertahun-tahun sejak mengetahui Li Cheng menjadi walikota, Yin Yue menyamar dan mengelola rumah makannya untuk menyelidiki lokasi artefak tersebut disembunyikan, karena dia tahu, tidak mungkin benda seperti itu dibawa kemana-mana. Dan Ia tahu bahwa Walikota Huoling bukanlah target yang bisa ditaklukkan dengan kekerasan. Meskipun bukan seorang kultivator tingkat tinggi, pria itu adalah seorang Master Foundation Perunggu tingkat akhir, seseorang yang tidak bisa diremehkan begitu saja.

Maka, Yin Yue menunggu. Setelah sekian lama menyelidiki, akhirnya dia mengetahui posisinya beberapa hari yang lalu, namun dia mencari kesempatan agar tidak diketahui. Dia tidak ingin banyak sekte dan klan yang memburunya karena mengetahui artefak tersebut berada di tangannya.

Kesempatan akhirnya datang saat Huo Zhen menyerang Walikota. Di tengah kekacauan, ketika semua orang sibuk bertarung dan melindungi keluarga Walikota, Yin Yue menyelinap masuk ke kediamannya dan mencuri artefak yang selama ini ia cari.

Dan kini, di sebuah bukit terpencil di luar Kota Huoling, di bawah langit malam yang redup, Yin Yue berdiri di sebuah tempat yang luas, memegang artefak itu di tangannya.

Artefak itu berbentuk lonjong, seukuran genggaman tangan, dengan ukiran rumit yang memancarkan cahaya samar. Di permukaannya, lapisan formasi pelindung masih aktif, menghalangi siapa pun yang ingin membuka segelnya.

Tanpa ragu, Yin Yue lalu menyalurkan energi ke dalam artefak. Sebagai seorang Master Foundation Emas Hitam, membuka segel ini bukanlah hal yang sulit baginya. Formasi kuno yang melindungi artefak itu mulai bergetar, merespons energi yang mengalir masuk.

Aliran qi yang stabil meresap ke dalam ukiran-ukiran di permukaannya, membuat simbol-simbol kuno mulai bersinar. Suara dengungan rendah terdengar, diikuti oleh kilatan cahaya yang berpendar semakin kuat.

Yin Yue menajamkan tatapannya. Ia bisa merasakan sesuatu di dalam artefak ini mulai terbangun.

"Terbukalah…" gumamnya pelan.

Lalu, dengan suara gemuruh yang mengguncang tanah di sekitarnya, sebuah gerbang setinggi tiga meter muncul di udara. Cahaya ungu gelap berpendar di sekelilingnya, memancarkan aura jahat yang terasa menekan.

Yin Yue tersenyum tipis. Tanpa ragu, ia melangkah maju dan memasuki gerbang itu.

